Ngetes Blog

Standar

Bertahun-tahun lamanya ternyata saya tidak membuka blog ini, haha. Seru juga membaca tulisan sendiri bertahun-tahun lalu πŸ˜€

Untuk sementara ini dulu lah.. Kapan-kapan kalau ada waktu coba nulis-nulis lagi di blog ini. Akankah sama seperti dulu gaya penyampaiannya? Atau kah menjadi lebih buruk? He he he.

Kok rasanya aneh ya mulai ngetik blog seperti ini? Seperti….. berbicara dengan diri sendiri karna tidak punya teman? Ha ha ha.. Ga asik ah kalo gitu

Hmmm..

Keluhan

Standar

“Sebenarnya bukan mereka yang salah, tapi aku yang seharusnya pergi.”

Ada hal yang tak disuka. Tapi…. mengeluh bukanlah sebuah solusi. Jika kita berada pada posisi yang memang rawan untuk menerima perlakuan yang mudah untuk dikeluhkan,, tak ada gunanya menyalahkan orang yang memperlakukan kita seperti itu. Keadaannya memang sudah seperti itu dan itulah resiko posisi yang sedang dijalani. Mau tidak marah lagi dengan keadaan??

QUIT!

Saya rasa hanya itu solusinya. Yaah kalau memang bisa mengubah keadaan, silakan ubah keadaan. Malah lebih bagus untuk menjadikan segala sesuatunya jadi lebih baik. Jika tidak? Atau ada hal2 baru yang diinginkan yang mungkin akan sulit didapatkan di tempat yang sekarang.. Yaaa mau tidak mau harus mencari jalan “keluar”.

Tak perlulah marah. Hanya akan mengeluarkan energi yang sia2.

Keep positive. Think positive and be positive.

Selamat berjuang!!!

*maaf ya atas curhat yg GeJe ini,, hehehe

Menikah (Part2)

Standar

Okayy… it’s still about marriage! xixixi

Belum banyak perubahan.. Nyatanya saya masih belum mempunyai kesiapan dan keinginan yang nyata untuk menikah. Masih merupakan sesuatu yang WAH bagi saya untuk melangkah ke jenjang itu.. :p

But anyway, saya berharap tahun ini Allah SWT menaikkan tingkat kehidupan saya dengan mengaruniakan hal yang satu itu kepada saya :). Tak perlu dibahas sebuah keromantisan yang nanti akan menyertainya.. karena saya sendiri belum bisa membayangkannya dan biarlah itu menjadi urusan-Nya. Hanya berharap jika “perasaan” itu ada, semoga kehadirannya selalu dalam keridhaan-Nya. Amiin.

Berbicara mengenai pernikahan,, yang paling sering menyentuh perasaan saya adalah kebahagiaan seorang ibu bersama anaknya, kebahagiaan seorang ibu dalam mendidik anak2nya.. Betapa saya rindu untuk mempunyai perasaan itu. Betapa bahagianya saya jika diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu yang bisa mendidik anak2nya dengan baik πŸ™‚

Dan untuk mewujudkan kebahagiaan itu, tentu saja wajib pula hadir seorang “pelengkap” *khan saya bukan ibunda Maryam as :p*. Dan inilah yang membuat saya belum bisa membayangkan kehadirannya… Mungkin bisa dikatakan “belum berani” dan saya belum bisa untuk lebih jauh memikirkan ini. Apatah lagi dengan yang namanya “kriteria”,, saya belum berani menentukannya! Mengharapkan sesuatu tentunya harus sesuai dengan kepantasan kita. Nah, jujur sekali saya merasa belum pantas untuk menentukan sebuah “kriteria”. Berasanya seperti sok kebaikan banget jadi manusia :p. Lha apa saya sebaik itu untuk pantas menentukan kriteria? @_@

Yah, saya baru bisa berharap yang terbaik dari-Nya. Semoga yang cocok, yang terbaik, yang dicintai, dan diridhoi-Nya untuk saya. Amiiin.

Semoga tak lama lagi.. πŸ™‚

Belajar nggak LeBe

Standar

Belajar nggak LeBe. Artinya, belajar nggak terlalu “over” dalam menggunakan perasaan :p.

Bener-bener.. Terlalu “over” dalam menggunakan perasaan itu bisa bikin hidup nggak damai.

Berusaha untuk mengabaikan perasaan2 yg nggak perlu itu menurut saya sangat perlu untuk dilakukan. Saya rasa sebisanya (jika bisa) perasaan itu sangat baik jika dioptimalkan untuk dirasakan kepada-Nya. Dengan begitu ketika ada hal2 yg tidak berkenan di hati, bisa cepat diabaikan dan dilupakan :). Dengan bahasa umumnya mungkin bisa dikatakan sisi pikiran lebih bermain daripada sisi perasaan (Thinking VS Feeling). Sehingga diri kita bisa lebih optimal dalam melakukan hal2 yang lebih penting dan perlu untuk dilakukan tanpa mengalami gangguan yang berarti akibat terlalu berperasaan terhadap sesuatu (sedih, marah, kecewa, dsb).

Hehehe,, selayang pandang aja dari seorang wanita yang “katanya” aspek perasaannya lebih banyak bermain dibandingkan aspek rasionalitasnya :p. Just my mind πŸ˜€

Kematian

Standar

Akhir2 ini saya begitu sering memikirkan tentang kematian. Sesuatu yang cukup menakutkan menurut saya mengingat cukup sering seseorang meninggal menjelang hari kelahirannya (*hanya analisa “kata orang” saja sih :p).

Mungkin dikarenakan semakin berumur seseorang, maka akan semakin sering pula ia mendengar berita tentang kematian. Sesuatu yang sebenarnya sangat wajar bagi setiap orang untuk mendengar berita itu dari sekelilingnya. Tapi hmm,, entah mengapa sekarang2 ini berita2 itu cukup membuat saya takut. Takut kalau2 kematian itu datang dengan tiba2. Siapa yang tau “jadwal” kematian yang sudah ditetapkan untuk dirinya? Ya Allah…

Jika ada pertanyaan, apakah saya takut dengan kematian? Jawabannya adalah IYA. Saya masih takut akan kematian, mengingat apa yang saya lakukan masih segitu2nya, dan saya rasa saya masih jauh dari bagaimana laku seorang muslim yang seharusnya dalam kehidupannya. Saya takut dengan persiapan kematian yang boleh dikatakan masih belum pantas untuk disebut sebagai persiapan,, dan saya rasa saya memang belum mempersiapkannya :(. Sungguh saya takut.. Saya berharap Allah SWT masih memberikan saya waktu untuk mempersiapkan kematian itu..

Berharap bisa menghadap dengan keridhaan-Nya suatu saat bila waktu itu tiba. Amiiin.

Menikah

Standar

Berawal dari keisengan temen2 kantor yg demeeeeen banget ngejodoh2in para lajang (termasuk saya)..

Hufff lama2 jengah juga saya dibuatnya. Mau tidak dipikirkan (krn itu hanya keisengan yg bagi mereka, “jadi” ya syukur, “nggak jadi” ya nggak masalah) tapi ya pasti terpikirkan juga akhirnya.. Saya yang awalnya enjoy2 saja dengan keadaan diri saya yg sekarang, akhirnya menjadi berpikir apakah saya sudah melakukan kesalahan dengan belum seriusnya saya untuk memikirkan sebuah pernikahan? Belum lagi dengan “usia” yang sering menjadi “tembakan” banyak orang untuk menyegerakan menikah (terutama bagi saya yg seorang wanita).

Saya menjadi takut bila keputusan yg selama ini saya jalani adalah sebuah kesalahan (dosa). Terlebih lagi dengan kondisi sewajarnya dan seumumnya bahwa di usia seperti saya, hampir semua teman2 saya mendambakan untuk segera menikah. Oh my God, adakah saya menjadi sebuah anomali? :(. Maafkan saya jika saya seperti ini.. Maafkan saya jika saya berbeda dengan kebanyakan orang.. Maafkan saya jika saya telah berdosa dengan keadaan saya ini..

Bukan saya tidak pernah mencoba untuk bisa menerima seseorang untuk “menemani” hidup saya.. Saya telah mencobanya! dan hasilnya? Saya limbung dibuatnya.. Saya mengalami ketidakseimbangan.. Saya merasa kacau.. :O. Untuk itu,, ya sudahlah.. saya tidak bisa berbuat apa2 lagi.. Hanya bisa berdo’a : Ihdinash shiraathal mustaqiim. Hanya bisa berdo’a agar Allah SWT memberikan petunjuknya yang lurus, terutama kepada hati saya untuk bisa mengikuti sebuah kebaikan.

Akhirnya, saya cari informasi lagi mengenai hukum menikah di dalam Islam. Sekedar untuk merefresh ilmu saya mengenai pernikahan yang siapa tau ada hal2 yg terlewatkan sejak saya mengetahuinya dulu sewaktu sekolah (jujur memang hal2 berbau pernikahan adalah sesuatu yang saya hindari selama saya masih merasa belum yakin siap untuk menikah,, tapi bukan berarti lantas saya tidak mengetahui hak dan kewajiban seorang istri/suami secara umum loh ya.. Bahkan dulu saya sempat keranjingan membaca hal2 yg berkaitan dengan keluarga, terutama dalam kaitannya dengan menghormati suami dan mendidik anak :P). Well, inilah dia hukum pernikahan di dalam Islam yg sekaligus juga membuat hati saya lega bahwa saya tidak berdosa dengan keanomalian saya πŸ™‚

Berdasarkan perintah nikah dari beberapa ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi, para ulama berbeda pendapat dalam nenetapkan hukum nikah. Menurut Jumhur Ulama, nikah itu sunnah dan bisa juga menjadi wajib atau haram. Perkawinan termasuk dalam bidang muamalat, sedang kaidah dasar muamalat adalah ibahah (boleh). Oleh karena itu, asal hukum melakukan perkawinan dilihat dari segi kategori kaidah hukum Islam adalah:

  • Ibahah (boleh),
  • Sunnah (kalau dipandang dari pertumbuhan jasmani, keinginan berumah tangga, kesiapan mental, kesiapan membiayai kehidupan berumah tangga telah benar-benar ada),
  • Wajib (kalau seseorang telah cukup matang untuk berumahtangga, baik dilihat dari segi pertumbuhan jasmani dan rohani, maupun kesiapan mental, kemampuan membiayai kehidupan rumah tangga dan supaya tidak terjerumus dalam lubang perzinahan),
  • Makruh (kalau dilakukan oleh seseorang yang belum siap jasmani, rohani (mental), maupun biaya rumah tangga),
  • Haram (kalau melanggar larangan-larangan atau tidak mampu menghidupi keluarganya).

Ya’ begitulah curcol di pagi ini.. Semoga ada ilmu yang bermanfaat bagi yang membacanya ya πŸ˜‰

My Father

Standar

Suddenly, I remembered my childhood. Phase of my life when I was child, I was so proud of my father. My father was everything to me. I couldn’t be far away from him. It always made me to miss him.

One time, I was so envy about my friend’s dad coming early from his work whereas mine always coming home in the evening. I missed my dad. I wanna met him more often, at least with his early coming as my friend’s dad did. Hohoho..

And I remembered that I always like to hug him when we went anywhere :D. I don;t know why,, though my father is a rigid one, I still love to be close to. Maybe that’s people named “like father like daughter”. Yes, when I was child almost all of my character were inherited from him, hehe..

That’s feeling thick on me untill a big problem happened to my family. I lived day by day and I found that my feeling has changed to my father. But I’m not regret about that. This is my life. It must be endured with no regret. My father is my father. I still love and honour him as my father πŸ™‚

*xixixi,, lg ngetes bahasa Inggris. Klo ada yg kurang tepat, “don’t hesitate to correct me ” ya πŸ˜€